Pages

Diberdayakan oleh Blogger.
 
 
Senin, 14 Januari 2013

Open Ended

BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
            Dewasa ini dunia pendidikan tengah disibukkan untuk menghadirkan inovasi dalam proses belajar mengajar. Karena model pembelajaran yang dipakai selama ini sudah tidak cocok lagi untuk dipakai.
Hal ini terlihat dari menurunnya minat dan kreativitas siswa untuk bereksperimen dan menemukan hal – hal baru. Oleh karena itu, peran tenaga pengajar khususnya guru dituntut untuk dapat menerapkan model – model pembelajaran yang belum pernah diterapkan sebelumnya agar siswa memiliki semangat baru dalam belajar  untuk kemudian dapat meningkatkan bakat dan kreativitas mereka.
Untuk itu, dalam makalah ini, penulis hendak membahas model pembelajaran open ended. Karena model pembelajaran open ended ini dianggap cocok untuk diterapkan dalam proses belajar – mengajar yang menekankan pada kreativitas peserta didik.
Rumusan masalah
1.      Apakah model pembelajaran open ended itu?
2.      Apakah tujuan model pembelajaran open ended?
3.      Apakah kelebihan dan kekurangan model open ended ?
4.      Output apakah yang diharapkan setelah menerapkan model pembelajaran open ended?
Tujuan
1.      Mengetahui  apa itu model pemebelajaran open ended.
2.      Mengetahui tujuan dari model pembelajaran open ended.
3.      Mengetahui kelebihan dan kelemahan model pembelajaran open ended.
4.      Mengetahui dan memahami output yang diharapkan setelah model ini diterapkan.
BAB II
PEMBAHASAN
Kemajuan zaman haruslah diiringi dengan perkembangan, tak terkecuali dalam proses belajar mengajar. Model pembelajarannya haruslah diubah, meskipun model itu sudah ditemukan sebelumnya, tapi jika belum pernah digunakan dan dirasa cocok untuk diterapkan, maka haruslah model itu di diterapkan.
Pembelajaran Open Ended
Menurut (Shimada dalam Erman Suherman dkk, 2003) dalam pembelajaran matematika, rangkaian dari pengetahuan, keterampilan, konsep, prinsip, atau aturan diberikan kepada siswa biasanya melalui langkah demi langkah. Tentu saja rangkaian ini diajarkan tidak sebagai hal yang terpisah atau saling lepas, namun harus disadari sebagai rangkaian yang terintegrasi dengan kemampuan dan sikap dari setiap siswa sehingga dalam pikirannya akan terjadi pengorganisasian intelektual yang maksimal.
Open ended adalah suatu model pembelajaran yang diformulasikan memiliki multi jawaban (mempunyai beberapa penyelesaian) atau sering disebut juga problem tak lengkap atau problem terbuka.
Model ini dimulai dengan memberikan problem terbuka pada siswa dan selanjutnya kegiatan pembelajaran harus membawa siswa dalam menjawab permasalahan dengan banyak cara dan mungkin juga jawaban (yang benar).

Tujuan Pembelajaran Open Ended

Tujuan pembelajaran (Nohda dalam Erman Suherman dkk, 2003) adalah untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir matematis siswa melalui problem solving yang simultan. Dengan kata lain, kegiatan kreatif dan pola pikir matematis siswa harus dikembangkan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan setiap siswa. Hal yang dapat digaris bawahi adalah perlunya memberi kesempatan siswa untuk berpikir dengan bebas sesuai dengan minat dan kemampuannya. Aktivitas kelas yang penuh dengan ide-ide matematika ini pada gilirannya akan memacu kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.
            Dari prespektif diatas, pendekatan open ended  menjanjikan suatu kesempatan kepada siswa untuk menginvestigasi berbagai strategi dan cara yang diyakininya sesuai dengan kemampuan mengelaborasi permasalahan. Tujuannya adalah agar kemampuan berfikir siswa dapat berkembang secara maksimal dan pada saat yang sama kegiatan – kegiatan kreatif dari setiap siswa terkomunikasi melalui proses belajar mengajar.
Dengan demikian model pembelajaran open ended merupakan pembelajaran terbuka.

Kegiatan matematika dan kegiatan siswa disebut terbuka jika memenuhi aspek-aspek:
1.      Kegiatan siswa harus terbuka
Yang dimaksud kegiatan siswa harus terbuka adalah kegiatan pembelajaran harus mengakomodasi kesempatan siswa untuk melakukan segala sesuatu secara bebas sesuai kehendak mereka.
2.      Kegiatan matematika adalah ragam berpikir.
Kegiatan matematik adalah kegiatan yang di dalamnya terjadi proses pengabstraksian dari pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari ke dalam dunia matematika atau sebaliknya. Pada dasarnya kegiatan matematika akan menggunakan proses manipulasi dan manifestasi dalam dunia matematika. Jika proses penyelesaian suatu problem menggunakan prosedur dan proses diversifikasi
dan generalisasi, kegiatan matematika dalam pemecahan masalah seperti ini dikatakan terbuka.
3.      Kegiatan siswa dan kegiatan matematika merupakan satu kesatuan.
Dalam pembelajaran matematika, guru diharapkan dapat mengangkat pemahaman siswa bagaimana memecahkan permasalahan dan perluasan serta pendalaman dalam berpikir matematika sesuai dengan kemampuan individu. Meskipun pada umumnya guru akan mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan pengalaman dan pertimbangan masing-masing. Guru bisa membelajarkan peserta didik melalui kegiatan-kegiatan matematika tingkat tinggi yang sistematis dan melalui kegiatan-kegiatan matematika yang mendasar untuk melayani siswa yang kemampuannya rendah.

Pada dasarnya model pembelajaran open ended bertujuan untuk mengangkat kegiatan kreatif siswa dan berpikir matematika secara simultan. Oleh karena itu hal yang paling perlu diperhatikan adalah kebebasan siswa untuk berfikir dalam membuat progress pemecahan sesuai dengan kemampuan, sikap, dan minatnya sehingga pada akhirnya akan membentuk intelegensi matematika siswa

Beberapa hal yang dapat dijadikan acuan dalam mengkreasi problem pada open ended :
1.      Sajikan permasalahan melalui situasi fisik yang nyata sehingga konsep-konsep matematika dapat diamati.
2.      Soal-soal pembuktian dapat diubah sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan hubunga dan sifat-sifat dari variabel dalam persoalan itu.
3.      Sajikan bentuk-bentuk atau bangun-bangun (geometri) sehingga siswa dapat membentuk konjektur.
4.      Sajikan urutan bilangan atau tabel sehingga siswa dapat menemukan aturan matematika.
5.      Berikan beberapa-beberapa masalah konkrit dalam beberapa katagori sehingga siswa dapat mengkolaborasi sifat – sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat – sifat umum.
6.      Berikan beberapa latihan serupa sehingga siswa dapat menggeneralisasi dari pekerjaannya.
Dengan demikian, pendekatan open ended menjanjikan suatu kesempatan kepada siswa untuk mengivestigasi berbagai strategi dan cara yang diyakininya sesuai dengan kemampuan mengelaborasi permasalahan. Tujuannya tiada lain adalah agar kemampuan berpikir matmatika siswa dapat berkembang secara maksimal dan pada saat yang sama kegiatan-kegiatan kreatif dari setiap siswa terkomunikasikan melalui proses belajar mengajar.

Kelebihan Dan Kekurangan Open Ended

a.      Kelebihan Open Ended
Ø  Siswa berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekspresika ide.
Ø  Siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan matematik secara komprehensif.
Ø  Siswa dengan kemampuan matematika rendah dapat merespon permasalahan dengan cara mereka sendiri.
Ø  Siswa secara instrinsik termotivasi untuk memberikan bukti atau penjelasan.
Ø  Siswa memiliki pengalaman banyak untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan.

b.      Kelemahan Open Ended
Ø  Membuat dan menyiapkan masalah matematika yang bermakna bagi siswa bukanlah pekerjaan yang mudah. Guru kurang memiliki alat evaluasi untuk penyelesaian berbeda dari siswa atau kemampuan untuk meningkatkan level tertinggi dari pemecahan masalah.
Ø  Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami siswa sangat sulit sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan bagaimana merespons permasalahan yang diberikan.
Ø  Siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka.
Ø  Kemungkinan ada sebagian siswa merasa bahwa kegiatan belajar mereka tidak menyenangkan karena kesulitan yang mereka hadapi.

Langkah Pembelajaran Open Ended :
a.       Kegiatan Awal
1.      Guru melakukan tanya jawab untuk mengecek pengetahuan prasyarat dan keterampilan yang dimiliki siswa.
2.      Guru menginformasikan kepada siswa materi yang akan mereka pelajari dan kegunaan materi tersebut.

b.      Kegiatan Inti
1.      Memberi Masalah
Guru memberi masalah open ended yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari.
2.      Mengeksplorasi Masalah
Waktu mengeksplorasi masalah dibagi dua sesi. Sesi pertama digunakan untuk bekerja secara individual untuk menyelesaikan masalah. Pada sesi kedua siswa bekerja secara kelompok untuk mendiskusikan hasil pekerjaan individunya.
3.      Merekam Respon Siswa
Guru meminta beberapa orang siswa sebagai wakil dari beberapa kelompok untuk mengemukakan hasil diskusi. Siswa diharapkan merespon masalah dengan berbagai cara atau penyelesaian dan guru merekamnya.
4.      Pembahasan Respon Siswa (diskusi kelas)
Guru mencatat respon siswa, pendekatan atau solusi masalah mereka dan menulis sebanyak mungkin kemungkinan respon siswa dan mendaftarnya. Kemudian guru mengelompokan siswa sesuai dengan sudut pandang tertentu. Dalam proses diskusi kelas guru mendorong siswa agar memberikan jawaban dan kesimpulan konsep yang diajarkan.
5.      Meringkas apa yang dipelajari
Hasil diskusi kelas disimpulkan, kemudian guru memberikan soal-soal lain yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari dan siswa diminta mengerjakannya baik secara individu maupun kelompok.

c.       Kegiatan Akhir
1.      Guru memberikan soal-soal untuk dikerjakan dirumah.
2.      Guru memberikan informasi tentang materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.

Orientasi pendekatan Open Ended dalam pembelajaran matematika.

       I.            Mengkontruksi Problem
            Melalui penelitian yang panjang di Jepang, ditemukan beberapa hal yang dapat dijadikan acuan dalam mengkreasikan problem tersebut, diantaranya:
1.      Sajikan permaslahan melalui situasi fisik yang nyata dimana konsep – konsep matematika dapat diamati dan dikaji siswa
2.      Soal – soal pembuktian dapat diubah sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan hubungan dan sifat – sifat dari variabel dalam persoalan itu
3.      Sajikan bentuk – bentuk atau bangun – bangun ( geometri ) sehingga siswa dapat suatu konjektur
4.      Sajikan urutan bilangan atau tabel sehingga siswa dapat menemukan aturan matematika
5.      Berikan beberapa contoh konkrit  dalam beberapa kategori sehingga siswa bisa mengelaborasi sifat – sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat – sifat yang umum
6.      Berikan beberapa latihan  serupa sehingga siswa dapat menggeneralisasi dari pekerjaannya

    II.            Mengembangkan Rencana Pembelajaran

            Setelah guru mengkontruksi problem dengan baik, tiga hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran sebelum problem itu ditampilkan dikelas adalah :
1.      Apakah problem itu kaya dengan konsep – konsep matematika dan berharga?
Problem harus mendorong siswa untuk berpikir dari berbagai sudut.
2.      Apakah level matematika dari problem itu cocok untuk siswa?
Pada saat siswa menyelesaikan problem open ended, mereka harus menggunakan pengetahuan dan ketrampilan yang telah mereka punyai.
3.      Apakah problem itu mengundang pengembangan konsep matematika lebih lanjut?
Problem harus memiliki keterkaitan atau dihubungkan dengan konsep – konsep matematika yang lebih tinggi sehingga dapat memacu siswa untuk berpikir tingkat tinggi.
Apabila kita telah memformulasi problem mengikuti criteria yang telah dikemukakan, langkah selanjutnya adalah mengembangkan rencana pembelajaran yang baik. Pada tahap ini hal – hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut.
a.    Tuliskan respon siswa yang diharapkan
Siswa diharapkankan merespon problem open ended dengan berbagai cara. Oleh karena itu guru harus menuliskan daftar antisipasi respon siswa terhadap problem.
b.    Tujuan dari problem ini diberikan harus jelas
Guru harus memahami peranan problem itu dalam keseluruhan rencana pembelajaran.
c.    Sajikan problem semenarik mungkin
Konteks permasalahan yang diberikan harus dikenal baik oleh siswa dan harus membangkitkan semangat intelektual.
d.   Lengkapi prinsip ‘ posing problem ‘ sehingga siswa memahami dengan mudah maksud dari problem itu
Problem harus diekspresikan sedemikian sehingga siswa dapat memahaminya dengan mudah dan menemukan pendekatan pemecahannya.
e.    Berikan waktu yang cukup kepada siswa untuk mengekplorasi problem
Kadang – kadang waktu yang dialokasikan tidak cukup dalam menyajikan problem, memecahkannya, mendiskusikan pendekatan dan penyelesaian, dan merangkum apa yang telah siswa pelajari. Oleh karena itu, guru harus memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk mengeksplorasi problem.
Output Pembelajaran Open Ended
            Setiap model maupun pendekatan dalam pembelajaran pastilah memiliki tujuan. Dimana tujuan tersebut  yang nantinya digunakan sebagai tolok ukur apakah model atau pendekatan itu dapat dikatakan berhasil atau tidak.
Tujuan yang akan menentukan output dalam suatu proses. Output dalam model pembelajaran open ended  ini tak lepas dari tujuan awal dilakukannya pendekatan. Meningkatnya bakat, minat, serta kreatifitaslah yang merupakan tujuan utama pendekatan ini.
            Jadi output yang dihasilkan dari pendekatan ini adalah siswa yang memiliki kreatifitas, bakat, dan minat yang tinggi dalam pembelajaran matematika, yang nantinya hal ini dapat membantu siswa dalam pengerjaan soal – soal yang diberikan oleh guru.




DAFTAR PUSTAKA

Suherman, Erman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung : UPI
Novikasari, Ifada. 2009. Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa melalui
                               Pembelajaran Matematika Open-ended di Sekolah Dasar. INSANIA 14. 346
                                – 364.
Sulianto, Joko. 2011. Keefektifan Model Pembelajaran Konstektual Dengan Pendekatan Open
                        Ended Dalam Aspek Penalaran Dan Pemecahan Masalah Pada Materi Segitiga di
                        Kelas VII. 1. 18 – 41.
Setiamihardja, Realin, Kusmiyati. 2007. Pendekatan Open Ended dalam Pembelajaran
Matematika di Sekolah Dasar.
Soongswang, Amporn, Yosawee Sanohdontree. 2007. OPEN-ENDED EQUITY MUTUA
                                       FUNDS.
International Journal of Business and Social Science 2. 127 –
                                       136.
Pongpullponsak, Adisak, Jirapon Kulchantawit. -. The Open-Ended Problem Solving in
                                           Mathematics Class of Grade 6 Students. 6. 60 – 67.

Psikologi Belajar



BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini menimbulkan berbagai dampak bagi lingkungan pendidikan, entah itu baik maupun buruk. Perkembangan ini menuntut perubahan pola pikir tenaga pengajar agar dapat memberikan pembelajaran baru dan sesuatu yang maksimal bagi anak didiknya. Dalam menjalankan pembelajaran – pembelajaran yang baru, tenaga pendidik dituntut mampu mencukupi “kebutuhan” peserta didik dalam berbagai bidang kehidupan.
Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan yang menyangkut proses di lingkungan pendidikan untuk kemudian dapat diaplikasikan dalam lingkungan masyarakat. Keseimbangan antara ilmu dan rasa pada akhirnya akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi peserta didik.
RUMUSAN MASALAH
·         Apakah psikologi belajar itu ?
·         Apa sajakah teori yang berkaitan dengan psikologi belajar ?
·         Apa sajakah metodenya ?
·         Apakah manfaat psikologi belajar dalam pembelajaran itu ?
TUJUAN
·         Mengetahui apa itu psikologi belajar.
·         Memahamai tentang berbagai macam teori belajar dan metodenya.
·         Mengetahui manfaat penerapan psikologi belajar dalam proses pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian
Psikologi belajar terdiri dari dua penggalan kata yaitu psikologi dan belajar. Psikologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “psyche” yang berarti “jiwa” dan “logos” yang berarti “ilmu”. Dengan demikian secara harpiah psikologi dapat diartikan ilmu jiwa.
Bermacam – macam definisi psikologi yang satu sama lain berbeda , diantaranya :
1.    Psikologi adalah ilmu mengenai kehidupan mental ( the science of mental life )
2.    Psikologi adalah ilmu mengenai pikiran ( the science of mind )
3.    Psikologi adalah ilmu mengenai tingkah laku ( the science of behavior )
Menurut Crow and Crow , psicology is the study of human behavior and human relationship . Psikologi adalah tingkah laku manusia , yakni interaksi manusia dengan dunia sekitarnya .
Pengertian “ tingkah laku ” meliputi tingkah laku yang nyata ( eksplisit : terbuka ) seperti berbicara , membaca , tertawa , melompat , dsb . Sedangkan tingkah laku yang tidak nyata ( implicit : tertutup ) seperti berpikir , mengingat , merasakan , menghendaki , dsb .
Psikologi lebih banyak dikaitkan sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha memahami perilaku manusia , alasan dan cara mereka melakukan sesuatu , dan juga memahami bagaimana manusia berpikir dan berperasaan .
Sedangkan belajar dapat diartikan sebagai suatu perubahan yang terjadi dalam diri seseorang mengenai hal-hal yang bermanfaat baginya melalui interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Aktivitas yang yang dipahami sebagai serangkaian kegiatan jiwa raga , psikofisik , menuju ke perkembangan pribadi individu seutuhnya yang menyangkut unsur cipta ( kognitif ) , rasa ( afektif ) , dan karsa ( psikomotor ) . Perkembangan dalam arti belajar disini dipahami sebagai “ perubahan “ yang relative permanen pada aspekpsikologis .

Jadi berdasarkan pengertian tersebut, dapat diartikan bahwa psikologi belajar adalah suatu ilmu jiwa yang berisi teori – teori mengenai belajar , tentang bagaimana cara individu belajar atau melakukan pembelajaran.
A. Teori – Teori Belajar
1.      Teori Belajar Behavioristik
Menurut pandangan ini, belajar adalah perubahan tingkah laku, dengan cara seseorang berbuat pada situasi tertentu. Yang dimaksud tingkah laku disini ialah tingkah laku yang dapat diamati ( berfikir dan emosi tidak menjadi perhatian dalam pandangan ini, karena tidak dapat diamati secara langsung. Diantara keyakinan prinsipil yang terdapat dalam pandangan ini ialah anak lahir tanpa warisan kecerdasan, bakat, perasaan, dan warisan abstrak lainnya. Semua kecakapan timbul setelah manusia melakukan kontak dengan lingkungan. (J.B. Watson, E.L. Thorndike, dan B.F. Skinner)
2.      Teori Belajar Kognitif
Belajar adalah proses internal mental manusia yang tidak dapat diamati secara langasung. Perubahan terjadi dalam kemampuan seseorang untuk bertingkah laku dan berbuat dalam situasi tertentu, perubahan dalam tingkah lauku hanyalah suatu refleksi dari perubahan internal dan tak dapat diukur tanpa dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental. (aspek-aspek yang tidak dapat diamati seperti pengetahuan, arti, perasaan, keinginan, kreatifitas, harapan dan pikiran)
3.      Teori Belajar Humanistik
Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan.
Dalam hal ini, James Bugental (1964) mengemukakan tentang 5 (lima) dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu:
Ø  Keberadaan manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen-komponen,
Ø  Manusia memiliki keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan manusia lainnya,
Ø  Manusia memiliki kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan dengan orang lain,
Ø  Manusia memiliki pilihan-pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihan-pilihanya, dan
Ø  Manusia memiliki kesadaran dan sengaja untuk mencari makna, nilai dan kreativitas.
B. Ruang Lingkup Psikologi Belajar
Psikologi belajar memiliki ruang lingkup yang secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga pokok bahasan , yaitu masalah belajar , proses belajar , dan situasi belajar .
1.         Pokok Bahasan Mengenai Belajar
Ø Teori – teori belajar
Ø Prinsip – prinsip belajar
Ø Hakikat belajar
Ø Jenis – jenis belajar
Ø Aktivitas – aktivitas belajar
Ø Teknik belajar efektif
Ø Karakteristik perubahan hasil belajar 
Ø Manifestasi perilaku belajar
Ø Faktor – faktor yang mempengaruhi belajar
2.         Pokok Bahasan Mengenai Proses Belajar
Ø Tahapan perbuatan belajar
Ø Perubahan – perubahan jiwa yang terjadi selama belajar
Ø Pengaruh pengalaman belajar terhadap perilaku individu
Ø Pengarauh motivasi terahadap perilaku belajar
Ø Signifikasi perbedaan individual dalam kecepatan memproses kesan dan keterbatasan kapasitas individu dalam belajar
Ø Masalah proses lupa dan kemampuan individu memproses perolehannya melalui transfer belajar
3.         Proses Bahasan Mengenai Situasi Belajar
Ø Suasana dan keadaan lingkungan fisik
Ø Suasana dan keadaan lingkungan non-fisik
Ø Suasana dan keadaan lingkungan sosial
Ø Suasana dan keadaan lingkungan non-sosial

C. Metode Psikologi Belajar
Ada beberapa metode riset yang sudah lazim digunakan dalam psikologi , yaitu sebagai berikut :

1.      Metode Eksperimen ( Eksperimen Method )
Maksud dilakukannya eksperimen dalam psikologi adalah untuk “ mengetes “ keyakinan atau pendapat tentang tingkah laku manusia dalam situasi atau kondisi tertentu. Eksperimen dilakukan dengan anggapan bahwa semua situasi atau kondisi dapat dikontrol dengan teliti yang keadaannya berbeda dari observasi yang terkontrol. Lewat penerapan metode eksperimen banyak aspek belajar yang dapat diteliti dengan baik. Aspek yang dimaksud antara lain keefektifan kompratif dari metode – metode mengajar yang berbeda ( seperti metode diskusi  versus metode ceramah ) untuk mempelajari keseluruhannya .


2.      Metode Observasi.
Metode observasi adalah metode untuk mempelajari gejala kejiwaan melalui pengamatan dengan sengaja , teliti , dan sistematis . Observasi dibedakan menjadi dua , yaitu :
Ø Metode Introspeksi
Metode introspeksi adalah metode untuk mempelajari gejala – gejala kejiwaan dengan jalan meninjau gejala – gejala jiwa sendiri secara sengaja  , teliti , dan sistematis .
Ø Metode Ekstrospeksi
Metode Ekstrospeksi adalah metode untuk mempelajari gejala-gejala kejiwaan dengan jalan mempelajari peristiwa-peristiwa jiwa orang lain dengan telitidan sistematis.
3.      Metode Genetik ( The Genetic method  )
Metode ini, juga disebut metode perkembangan (development method ), merupakan teknik observasi yang digunakan untuk meneliti masa pertumbuhan mental dan fisik anak dan juga hubungannya dengan anak-anak lain dan orang-orang dewasa, yakni perkembangan sosialny, kemudian dicatat dengan cermat. 
4.      Metode Riwayat Hidup atau Klinis
Metode riwayat hidup adalah metode untuk menyelidiki gejala-gejala kejiwaan dengan jalan mengumpulkan riwayat hidup sebanyak-banyaknya, baik yang ditulis sendiri maupun yang ditulis orang lain. Dalam penyelidikan ini buku-buku harian dan kenang-kenangan besar sekali manfaatnya.
Walaupun metode ini merupakan cara penyelidikan yang lebih teliti dan bersifat menyeluruh, nemun terdapat pula kelemahan-kelemahannya, antara lain tidak seluruh kejadian di masa lalu akan tetap dapat diingat, sehingga keterangan-keterangan yang diberikan boleh jadi tidak objektif.
5.      Metode Tes
Tes adalah suatu alat yang di dalamnya berisi sejumlah pertanyaan yang harus dijawab atau perintah-perintah yang harus dikerjakan, untuk mendapatkan gambaran tentang kejiwaan seseorang atau kelompok orang.
Tes merupakan instrument riset yang penting dalam psikologi masa sekarang. Ia digunakan untuk mengukur semua jenis kemampuan, minat, bakat, prestasi, sikap, dan ciri kepribadian.
D. Manfaat Psikologi Pendidikan
Penyebab utama dari kegagalan seorang guru dalam menjalankan tugas mengajar di depan kelas adalah kedangkalan pengetahuan guru terhadap siapa anak didik dan bagaimana cara belajarnya, sehingga setiap tindakan pembelajaran yang diprogramkan justru lebih banyak kesalahan dari pada kebenaran dari kebijakan yang diambil.
Psikologi belajar adalah sebuah disiplin ilmu yang memberikan wawasan kepada guru dan calon guru mengenai siapa anak didik dan bagaimana belajarnya. Hal-hal lain yang berhubungan dengan aktivitas belajar anak didik, juga dibicarakan di dalamnya. Semua itu penting untuk diketahui oleh guru dan calon guru dan besar manfaatnya bagi kepentingan pembelajaran di sekolah tempat mengabdikan diri.
Oleh karena itu, dalam konteks ini, ada beberapa manfaat yang dapat dipetik setelah mempelajari psikologi belajar, sebagai berikut :
a.       Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang hakikat siapa anak didik dan bagaimana cara belajarnya, hakikat umum belajar dan syarat-syaratnya yang diperoleh agar peristiwa belajar dapat berjalan dengan baik, yang dapat dimanfaatkan dalam pengambilan kebijakan pembelajaran.
b.      Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang teori-teori, prinsip-prinsip, dan ciri-ciri khas perilaku belajar individu anak, yang dapat dimanfaatkan dalam memahami masalah belajar anak. Strategi belajar mengajar yang diperlukan pun menjadi lebih adabtable dan jauh dari dominasi guru.
c.       Dapat diperoleh ilmu pengetahuan bahwa setiap anak berbeda sebagai individu dalam belajar, yang mana dapat dimanfaatkan untuk melakukan pendekatan yang tepat dalam kegiatan belajar mengajar sesuai potensi individu anak masing-masing.
d.      Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang belajar dan fakto-faktor yang mempengaruhinya, yang dapat dimanfaatkan dengan menyediakan lingkungan belajaryang kondusif lagi kreatif dalam rangka meningkatkan hasil belajar yang optimal.
e.       Dapat diperoleh ilmu pengetahuan bahwa pembawaan merupakan potensi anak yang tersedia dan dapat diubah dengan menyediakan lingkungan belajar yang kreatif di dalam kelas.
f.       Dapat diperoleh ilmu pngetahuan tentang berbagai masalah yang terkait dengan teori-teori, prinsip-prinsip, dan fungsi, serta teknik motivasi belajar, yang dapat dimanfaatkan dalam rangka pemberian motivasi kepada anak didik yang tidak atau kurang bergairah dalam belajar, sehingga diharapkan anak didik terlibat langsung dalam belajar.
g.      Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang hubungan antara tingkat kematangan dengan kesiapan belajar anak, yang dapat dimanfaatkan oleh guru dengan tidak memaksakan kehendak sendiri kepada anak didik untuk dipaksa belajar.
h.      Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang kepastian belajar anak pada stadium umur tertentu, yang dapat dimanfaatkan dalam rangka pengalokasian waktu belajar dan sebagai bahan pertimbangan sampai sejauh mana tingkat keluasan dan kedalaman materi yang diprogramkan dalam kurikulum, sehingga apat memperkecil tingkat kesulitan anak didik dalam menyerap, mengolah, dan menyimpan informasi dalam memori otak.
i.        Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang masalah lupa dan factor-faktor penyebabnya, yang dapat dimanfaatkan dalam rangka manajemen pembelajaran yang kondusif dengan tujuan informasi baru dapat diserap, diolah, dan disimpan dengan baik dan tidak membuat anak didik melupakan informasi lama yang telah tersimpan dalam memori otak.
j.        Dapat diperoleh ilmu pengetahuan masalah transfer belajar, yang dapat dimanfaatkan untuk membantu anak didik untuk mentransfer perolehannya dalam situasi lain, sehingga penguasaan anak didik terhadap materi pelajaran betul-betul mantap  dan bermakna.



BAB III
PENUTUP

 SIMPULAN
            Dari penjabaran tentang psokologi di atas dapat disimpulkan :
1.      Psikologi belajar memiliki beberapa metode yaitu Metode Eksperimen ( Eksperimen Method ), Metode Observasi, Metode Genetik ( The Genetic method  ), Metode Riwayat Hidup atau Klinis, dan Metode Tes yang memiliki kekurangan dan kelebihan masing – masing..
2.      Karakteristik belajar peserta didik bebrbeda – beda, namun dengan adanya pemahaman tentang psikologi belajar serta kemampuan tenaga pendidik untuk mengaplikasikannya pada kegiatan belajar mengajar maka akan ditemukan strategi belajar yang lebih adaptable.
3.      Psikologi belajar lebih menekankan tingkat kematangan dan pemahaman peserta didik dalam pembelajarannya ketimbang mengejar suatu target dengan memaksakan peserta didik untuk berfikir jauh di atas usianya.

1.       
DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar Edisi II. Jakarta : Rineka Cipta
Jufry Malyno. Teori-Teori Psikologi Belajar. 2011. http://juprimalino.blogspot.com. 2 Mei 2012.
Rudiansyah Harahap. 2010. Pengertian Dan Ruang Lingkup Psikologi Belajar.       http://rudiansyahharahap-parsalakrinso.blogspot.com. 2 Mei 2012.



  

 


Labels